Tuturwarta.com, Jakarta — Geothermal Soccer Indonesia (GSI) kembali menguatkan kolaborasi antara sektor energi hijau dan olahraga melalui penyelenggaraan friendly match mini soccer bersama para pemangku kepentingan panas bumi.
Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian penutup atau closing event Indonesia Sport Summit 2025 yang digelar di Lapangan Mini Soccer Asatu, Cikini, Jakarta Pusat, Senin (22/12/2025).
Pertandingan persahabatan tersebut diikuti lima tim yang berasal dari perusahaan dan institusi strategis di sektor panas bumi, yakni GSI, Pertamina Geothermal Energy (PGE), Supreme Energy, PLN Indonesia Power, serta Rekayasa Engineering.
ADVERTISEMENT
. Ukuran gambar 480px x 600px SCROLL TO RESUME CONTENT
Sejak awal, laga ini dikemas dengan konsep santai dan kekeluargaan, mengedepankan silaturahmi antarpelaku industri ketimbang persaingan kompetitif.
Ketua GSI, Carson Hakama, mengatakan bahwa Geothermal Soccer Indonesia merupakan inisiatif yang lahir pada 2025 sebagai wadah mempertemukan para pelaku industri panas bumi melalui olahraga sepak bola.
Sejak berdiri, GSI secara konsisten menggelar berbagai kegiatan olahraga yang dikemas dalam format pertandingan persahabatan maupun turnamen.
“GSI berdiri tahun ini dan sejak April kami sudah mulai mengadakan kegiatan seperti friendly match yang dikemas dalam bentuk trofeo. Untuk turnamen besar atau event utama, kami selenggarakan pada Agustus lalu,” ujar Carson di sela kegiatan.
Sebagai catatan, GSI sebelumnya sukses menggelar Geothermal Soccer Championship pada 30–31 Agustus 2025.
Ajang tersebut tercatat sebagai turnamen sepak bola pertama di Indonesia yang secara khusus mengusung tema energi hijau dan panas bumi.
Kejuaraan itu menjadi tonggak awal upaya GSI mengaitkan kampanye energi bersih dengan olahraga yang dekat dengan masyarakat.
Carson menjelaskan, friendly match kali ini memang bersifat terbatas dan hanya melibatkan sejumlah stakeholder utama di sektor panas bumi.
Menurutnya, pihak-pihak yang diundang memiliki peran langsung dalam ekosistem geothermal nasional, mulai dari pengembang, pembeli listrik, hingga penyedia jasa penunjang.
“Yang kami undang adalah stakeholder di dunia panas bumi. Ada PGE dan Supreme sebagai pengembang panas bumi, PLN Indonesia Power sebagai salah satu pembeli listrik geothermal, serta Rekayasa Engineering yang bergerak di bidang jasa konstruksi sebagai penunjang,” jelas Carson.
Ia menambahkan, sebenarnya anggota dan mitra GSI cukup banyak. Namun, keterbatasan waktu dan lokasi membuat tidak semua pihak dapat berpartisipasi dalam kegiatan kali ini.
“Ini baru beberapa yang bisa konfirmasi hadir. Anggota kami sebenarnya lebih banyak, tetapi karena keterbatasan waktu dan tempat, hanya sebagian yang bisa ikut,” katanya.
Lebih lanjut, Carson menegaskan bahwa kegiatan ini memiliki tujuan strategis, yakni memperkenalkan dan memperkuat branding geothermal sebagai energi bersih, ramah lingkungan, dan rendah emisi.
Melalui pendekatan olahraga, pesan tersebut diharapkan lebih mudah diterima oleh masyarakat luas.
“Geothermal adalah energi hijau yang tidak merusak lingkungan dan hutan. Kami ingin menanamkan pemahaman bahwa pengembangan panas bumi sangat cinta alam. Dengan mengundang perusahaan-perusahaan ini, kami ingin memperkuat branding agar geothermal semakin dikenal dan mendapat dukungan masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, Wakil Ketua GSI Yohanes menyampaikan bahwa kegiatan Geothermal Soccer Indonesia sejauh ini mendapat respons yang sangat positif dari para stakeholder.
Ia bahkan membuka peluang agar agenda serupa digelar lebih rutin ke depannya.
“Responsnya sangat positif. Ke depan, mungkin kegiatan seperti ini tidak hanya satu bulan sekali, tapi bisa dua kali dalam sebulan,” kata Yohanes.
Menurutnya, GSI tidak hanya berfungsi sebagai wadah olahraga, tetapi juga menjadi ruang informal untuk berbagi informasi dan mempererat jejaring antarpelaku industri panas bumi.
Dalam suasana santai, komunikasi dan pertukaran gagasan dinilai dapat berlangsung lebih efektif.
“Ini bukan hanya mempertemukan stakeholder dan jasa penunjang, tetapi juga menjadi wadah informasi. Banyak hal yang mungkin tidak kita dapatkan di forum formal, justru bisa muncul di forum informal seperti ini. Hubungan bisa dimaksimalkan, begitu juga kolaborasi di dalam Geothermal Soccer Indonesia,” jelasnya.
Di sisi lain, Sekretaris Jenderal GSI Rio mengungkapkan bahwa partisipasi lima tim dalam friendly match kali ini baru langkah awal.
Ke depan, GSI menargetkan keterlibatan seluruh stakeholder panas bumi, termasuk dari luar negeri.
“Saat ini baru lima tim, tapi rencananya kami ingin mengundang semua penunjang di dunia panas bumi. Jumlahnya bisa mencapai 50 tim perusahaan,” ujar Rio.
Ia menambahkan, GSI juga membuka peluang kolaborasi internasional dengan mengundang tim dari negara lain yang memiliki pengembangan panas bumi, seperti Selandia Baru, Filipina, dan Brunei Darussalam.
“Target kami adalah mengenalkan bahwa geothermal merupakan energi yang ramah bagi semua lingkungan dan relevan secara global,” pungkas Rio. (sat)











